Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 28 Juli 2011

Pendidikan Karakter Terintegrasi dalam Pembelajaran IPA

Pendidikan Karakter Terintegrasi dalam Pembelajaran IPA
di Sekolah Menengah Pertama
2010

BAGIAN I: PANDUAN UMUM

A. Latar Belakang
Pasal 3 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Sehubungan dengan hal tersebut, salah satu program utama Kementerian Pendidikan Nasional dalam rangka meningkatkan mutu proses dan output pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah pengembangan pendidikan karakter.

Sebenarnya pendidikan karakter bukan hal yang baru dalam sistem pendidikan nasional Indonesia. Pada saat ini, setidak-tidaknya sudah ada dua mata pelajaran yang diberikan untuk membina akhlak dan budi pekerti peserta didik, yaitu Pendidikan Agama dan PKn. Namun demikian, pembinaan watak melalui kedua mata pelajaran tersebut belum membuahkan hasil yang memuaskan karena beberapa hal. Pertama, kedua mata pelajaran tersebut cenderung baru membekali pengetahuan mengenai nilai-nilai melalui materi/substansi mata pelajaran. Kedua, kegiatan pembelajaran pada kedua mata pelajaran tersebut pada umumnya belum secara memadai mendorong terinternalisasinya nilai-nilai oleh masing-masing siswa sehingga siswa berperilaku dengan karakter yang tangguh. Ketiga, menggantungkan pembentukan watak siswa melalui kedua mata pelajaran itu saja tidak cukup. Pengembangan karakter peserta didik perlu melibatkan lebih banyak lagi mata pelajaran, bahkan semua mata pelajaran. Selain itu, kegiatan pembinaan kesiswaan dan pengelolaan sekolah dari hari ke hari perlu juga dirancang dan dilaksanakan untuk mendukung pendidikan karakter.

Merespons sejumlah kelemahan dalam pelaksanaan pendidikan akhlak dan budi pekerti yang telah diupayakan inovasi pendidikan karakter. Inovasi tersebut adalah:

1) Pendidikan karakter dilakukan secara terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran. Integrasi yang dimaksud meliputi pemuatan nilai-nilai ke dalam substansi pada semua mata pelajaran dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang memfasilitasi dipraktikkannya nilai-nilai dalam setiap aktivitas pembelajaran di dalam dan di luar kelas untuk semua mata pelajaran.
2) Pendidikan karakter juga diintegrasikan ke dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan kesiswaan.
3) Selain itu, pendidikan karakter dilaksanakan melalui kegiatan pengelolaan semua urusan di sekolah yang melibatkan semua warga sekolah.

Pelaksanaan pendidikan karakter secara terpadu di dalam semua mata pelajaran (sebagaimana dimaksud oleh butir 1 di atas) merupakan hal yang baru bagi sebagain besar SMP di Indonesia. Oleh karena itu, dalam rangka membina pelaksanaan pendidikan karakter secara terpadu di dalam seluruh mata pelajaran, perlu disusun panduan pelaksanaan pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam pembelajaran di SMP, terutama ketika guru menggunakan Buku Sekolah Elektronik (BSE).

B. Pengertian Pendidikan Karakter Terintegrasi di dalam Pembelajaran

Yang dimaksud dengan pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran adalah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran, yang dirancang dan dilakukan menjadikan peserta didik menguasai kompetensi secara utuh yaitu tidak hanya menguasai pengetahuan tetapi juga mengenal, menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai dan perilaku menjadikannya sebagai karakter bangsa.


C. Strategi Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran

Integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran.

1. Perencanaan integrasi pendidikan karakter dalam pembelajaran

Pada tahap perencanaan dilakukan analisis SK/KD, pengembangan silabus, penyusunan RPP, dan penyiapan bahan ajar.

Analisis SK/KD dilakukan untuk mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang relevan/sesuai secara substansi.. Perlu dicatat bahwa identifikasi nilai-nilai karakter ini tidak dimaksudkan untuk membatasi nilai-nilai yang dapat dikembangkan pada pembelajaran SK/KD yang bersangkutan.

Pengembangan silabus dapat dilakukan dengan merevisi silabus yang telah dikembangkan dengan menambah komponen (kolom) karakter tepat di sebelah kanan komponen (kolom) Kompetensi Dasar. Pada kolom tersebut diisi nilai-nilai karakter yang hendak diintegrasikan dalam pembelajaran. Nilai-nilai yang diisikan tidak hanya terbatas pada nilai-nilai yang telah ditentukan melalui analisis SK/KD, tetapi dapat ditambah dengan nilai-nilai lainnya yang dapat dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran (bukan lewat substansi pembelajaran). Setelah itu, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian, dan/atau teknik penilaian, diadaptasi atau dirumuskan ulang menyesuaikan karakter yang hendak dikembangkan.

Sebagaimana langkah-langkah pengembangan silabus, penyusunan RPP dalam rangka pendidikan karakter yang terintegrasi dalam pembelajaran dilakukan dengan cara merevisi RPP yang telah ada. Pertama-tama rumusan tujuan pembelajaran direvisi/diadaptasi. Revisi/adaptasi tujuan pembelajaran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) rumusan tujuan pembelajaran yang telah ada direvisi hingga satu atau lebih tujuan pembelajaran tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif dan psikomotorik, tetapi juga karakter, dan (2) ditambah tujuan pembelajaran yang khusus dirumuskan untuk karakter.

Ke dua, pendekatan/metode pembelajaran diubah (bila diperlukan) agar pendekatan/metode yang dipilih selain memfasilitasi peserta didik mencapai pengetahuan dan keterampilan yang ditargetkan, juga mengembangkan karakter. Ketiga, langkah-langkah pembelajaran direvisi. Kegiatan-kegiatan pembelajaran dalam setiap langkah/tahap pembelajaran (pendahuluan, inti, dan penutup), direvisi dan/atau ditambah agar sebagian atau seluruh kegiatan pembelajaran pada setiap tahapan memfasilitasi peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang ditargetkan dan mengembangkan karakter. Prinsip-prinsip pendekatan pembelajaran kontekstual dan pembelajaran aktif yang selama ini digalakkan aplikasinya oleh Direktorat PSMP sangat efektif mengembangkan karakter peserta didik.

Ke tiga, bagian penilaian direvisi. Revisi dilakukan dengan cara mengubah dan/atau menambah teknik-teknik penilaian yang telah dirumuskan. Teknik-teknik penilaian dipilih sehingga secara keseluruhan teknik-teknik tersebut mengukur pencapaian peserta didik dalam kompetensi dan karakter. Di antara teknik-teknik penilaian yang dapat dipakai untuk mengetahui perkembangan karakter adalah observasi, penilaian antar teman, dan penilaian diri sendiri. Nilai dinyatakan secara kualitatif, misalnya:

• BT: Belum Terlihat (apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator).
• MT: Mulai Terlihat (apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten).
• MB: Mulai Berkembang (apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten).
• MK: Membudaya (apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten).

Ke empat, bahan ajar disiapkan. Bahan/buku ajar merupakan komponen pembelajaran yang paling berpengaruh terhadap apa yang sesungguhnya terjadi pada proses pembelajaran. Banyak guru yang mengajar dengan semata-mata mengikuti urutan penyajian dan kegiatan-kegiatan pembelajaran (task) yang telah dirancang oleh penulis buku ajar, tanpa melakukan adaptasi yang berarti.

Melalui program Buku Sekolah Elektronik atau buku murah, dewasa ini pemerintah telah membeli hak cipta sejumlah buku ajar dari hampir semua mata pelajaran yang telah memenuhi kelayakan pemakaian berdasarkan penilaian BSNP dari para penulis/penerbit. Guru wajib menggunakan buku-buku tersebut dalam proses pembelajaran.

Walaupun buku-buku tersebut telah memenuhi sejumlah kriteria kelayakan - yaitu kelayakan isi, penyajian, bahasa, dan grafika bahan-bahan ajar tersebut masih belum secara memadai mengintegrasikan pendidikan karakter di dalamnya. Apabila guru sekedar mengikuti atau melaksanakan pembelajaran dengan berpatokan pada kegiatan-kegiatan pembelajaran pada buku-buku tersebut, pendidikan karakter secara memadai belum berjalan. Oleh karena itu, sejalan dengan apa yang telah dirancang pada silabus dan RPP yang berwawasan pendidikan karakter, bahan ajar perlu diadaptasi. Adaptasi yang paling mungkin dilaksanakan oleh guru adalah dengan cara menambah kegiatan pembelajaran yang sekaligus dapat mengembangkan karakter. Cara lainnya adalah dengan mengadaptasi atau mengubah kegiatan belajar pada buku ajar yang dipakai. Selain itu, adaptasi dapat dilakukan dengan merevisi substansi pembelajarannya.

Sebuah kegiatan belajar (task), baik secara eksplisit atau implisit terbentuk atas enam komponen. Komponen-komponen yang dimaksud adalah:

a. Tujuan
b. Input
c. Aktivitas
d. Pengaturan (Setting)
e. Peran guru
f. Peran peserta didik

Dengan demikian, perubahan/adaptasi kegiatan belajar yang dimaksud menyangkut perubahan pada komponen-komponen tersebut.

Secara umum, kegiatan belajar yang potensial dapat mengembangkan karakter peserta didik memenuhi prinsip-prinsip atau kriteria berikut.

1. Tujuan

Dalam hal tujuan, kegiatan belajar yang menanamkan nilai adalah apabila tujuan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga sikap. Oleh karenanya, guru perlu menambah orientasi tujuan setiap atau sejumlah kegiatan belajar dengan pencapaian sikap atau nilai tertentu, misalnya kejujuran, rasa percaya diri, kerja keras, saling menghargai, dan sebagainya.

2. Input

Input dapat didefinisikan sebagai bahan/rujukan sebagai titik tolak dilaksanakannya aktivitas belajar oleh peserta didik. Input tersebut dapat berupa teks lisan maupun tertulis, grafik, diagram, gambar, model, charta, benda sesungguhnya, film, dan sebagainya. Input yang dapat memperkenalkan nilai-nilai adalah yang tidak hanya menyajikan materi/pengetahuan, tetapi yang juga menguraikan nilai-nilai yang terkait dengan materi/pengetahuan tersebut.

3. Aktivitas

Aktivitas belajar adalah apa yang dilakukan oleh peserta didik (bersama dan/atau tanpa guru) dengan input belajar untuk mencapai tujuan belajar. Aktivitas belajar yang dapat membantu peserta didik menginternalisasi nilai-nilai adalah aktivitas-aktivitas belajar aktif yang antara lain mendorong terjadinya autonomous learning dan bersifat learner-centered. Pembelajaran yang memfasilitasi autonomous learning dan berpusat pada siswa secara otomatis akan membantu siswa memperoleh banyak nilai. Contoh-contoh aktivitas belajar yang memiliki sifat-sifat demikian antara lain diskusi, eksperimen, pengamatan/observasi, debat, presentasi oleh siswa, dan mengerjakan proyek.

4. Pengaturan (Setting)

Pengaturan (setting) pembelajaran berkaitan dengan kapan dan di mana kegiatan dilaksanakan, berapa lama, apakah secara individu, berpasangan, atau dalam kelompok. Masing-masing setting berimplikasi terhadap nilai-nilai yang terdidik. Setting waktu penyelesaian tugas yang pendek (sedikit), misalnya akan menjadikan peserta didik terbiasa kerja dengan cepat sehingga menghargai waktu dengan baik. Sementara itu kerja kelompok dapat menjadikan siswa memperoleh kemampuan bekerjasama, saling menghargai, dan lain-lain.

5. Peran guru

Peran guru dalam kegiatan belajar pada buku ajar biasanya tidak dinyatakan secara eksplisit. Pernyataan eksplisit peran guru pada umumnya ditulis pada buku petunjuk guru. Karena cenderung dinyatakan secara implisit, guru perlu melakukan inferensi terhadap peran guru pada kebanyakan kegiatan pembelajaran apabila buku guru tidak tersedia.

Peran guru yang memfasilitasi diinternalisasinya nilai-nilai oleh siswa antara lain guru sebagai fasilitator, motivator, partisipan, dan pemberi umpan balik. Mengutip ajaran Ki Hajar Dewantara, guru yang dengan efektif dan efisien mengembangkan karakter siswa adalah mereka yang ing ngarsa sung tuladha (di depan guru berperan sebagai teladan/memberi contoh), ing madya mangun karsa (di tengah-tengah peserta didik guru membangun prakarsa dan bekerja sama dengan mereka), tut wuri handayani (di belakang guru memberi daya semangat dan dorongan bagi peserta didik).

6. Peran peserta didik

Seperti halnya dengan peran guru dalam kegiatan belajar pada buku ajar, peran siswa biasanya tidak dinyatakan secara eksplisit juga. Pernyataan eksplisit peran siswa pada umumnya ditulis pada buku petunjuk guru. Karena cenderung dinyatakan secara implisit, guru perlu melakukan inferensi terhadap peran siswa pada kebanyakan kegiatan pembelajaran.

Agar peserta didik terfasilitasi dalam mengenal, menjadi peduli, dan menginternalisasi karakter, peserta didik harus diberi peran aktif dalam pembelajaran. Peran-peran tersebut antara lain sebagai partisipan diskusi, pelaku eksperimen, penyaji hasil-hasil diskusi dan eksperimen, pelaksana proyek, dsb.


2. Pelaksanaan pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dari tahapan kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup, dipilih dan dilaksanakan agar peserta didik mempraktikkan nilai-nilai karakter yang ditargetkan. Sebagaimana disebutkan di depan, prinsip-prinsip Contextual Teaching and Learning disarankan diaplikasikan pada semua tahapan pembelajaran karena prinsip-prinsip pembelajaran tersebut sekaligus dapat memfasilitasi terinternalisasinya nilai-nilai. Selain itu, perilaku guru sepanjang proses pembelajaran harus merupakan model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta didik. Diagram 1.1. berikut menggambarkan penanaman karakter melalui pelaksanaan pembelajaran.


















Diagram 1.1: Penanaman Karakter melalui Pelaksanaan Pembelajaran

A. Tindak Lanjut Pembelajaran

Tugas-tugas penguatan (terutama pengayaan) diberikan untuk memfasilitasi peserta didik belajar lebih lanjut tentang kompetensi yang sudah dipelajari dan internalisasi nilai lebih lanjut. Tugas-tugas tersebut antara lain dapat berupa PR yang dikerjakan secara individu dan/atau kelompok baik yang dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang singkat ataupun panjang (lama) yang berupa proyek. Tugas-tugas tersebut selain dapat meningkatkan penguasaan yang ditargetkan, juga menanamkan nilai-nilai.



D. Nilai-nilai Karakter untuk SMP

Ada banyak nilai (80 butir) yang dapat dikembangkan pada peserta didik. Menanamkan semua butir nilai tersebut merupakan tugas yang sangat berat. Oleh karena itu perlu dipilih nilai-nilai tertentu sebagai nilai utama yang penanamannya diprioritaskan. Untuk tingkat SMP, nilai-nilai utama tersebut disarikan dari butir-butir SKL, yaitu:

1. Kereligiusan
Pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya.
2. Kejujuran
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain.
3. Kecerdasan
Kemampuan seseorang dalam melakukan suatu tugas secara cermat, tepat, dan cepat.
4. Ketangguhan
Sikap dan perilaku pantang menyerah atau tidak mudah putus asa ketika menghadapi berbagai kesulitan dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehingga mampu mengatasi kesulitan dalam mencapai tujuan
5. Kedemokrasian
Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
6. Kepedulian
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah dan memperbaiki penyimpangan dan kerusakan (manusia, alam, dan tatanan) di sekitar dirinya.
7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8. Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif
Berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki.
9. Keberanian mengambil risiko
Kesiapan menerima risiko/akibat yang mungkin timbul dari tindakan yang dilakukan
10. Berorientasi pada tindakan
Kemampuan untuk mewujudkan gagasan menjadi tindakan nyata
11. Berjiwa kepemimpinan
Kemampuan mengarahkan dan mengajak individu atau kelompok untuk mencapai tujuan dengan berpegang pada asas-asas kepemimpinan yang berbudaya.
12. Kerja keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.
13. Tanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME.
14. Gaya hidup sehat
Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan.
15. Kedisiplinan
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
16. Percaya diri
Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya.
17. Keingintahuan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
18. Cinta ilmu
Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan.
19. Kesadaran akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain.
20. Kepatuhan terhadap aturan-aturan sosial
Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum.
21. Penghargaan pada karya dan prestasi orang lain
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.
22. Kesantunan
Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang.
23. Nasionalis
Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.
24. Menghargai keberagaman
Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama.
Di antara butir-butir nilai tersebut di atas, enam butir dipilih sebagai nilai-nilai pokok sebagai pangkal tolak pengembangan, yaitu:

1. Kereligiusan
2. Kejujuran
3. Kecerdasan
4. Ketangguhan
5. Demokratis
6. Kepedulian


Keenam butir nilai tersebut ditanamkan melalui semua mata pelajaran dengan intensitas penanaman lebih dibandingkan penanaman nilai-nilai lainnya.

E. Pemetaan Nilai-nilai Karakter untuk Integrasi dalam Mata Pelajaran

Apabila semua nilai tersebut di atas harus ditanamkan dengan intensitas yang sama pada setiap mata pelajaran, penanaman nilai menjadi sangat berat. Oleh karena itu perlu dipilih sejumlah nilai utama sebagai pangkal tolak bagi penanaman nilai-nilai lainnya pada setiap mata pelajaran. Dengan kata lain, tidak setiap mata pelajaran diberi integrasi semua butir nilai tetapi beberapa nilai utama saja walaupun tidak berarti bahwa nilai-nilai yang lain tersebut tidak diperkenankan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran tersebut. Dengan demikian setiap mata pelajaran memfokuskan pada penanaman nilai-nilai utama tertentu yang paling dekat dengan karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan. Tabel 1.1 menyajikan contoh distribusi nilai-nilai pokok dan utama ke dalam semua mata pelajaran.


Mata Pelajaran

Nilai Utama
1. Pendidikan Agama Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis, kesantunan, kedisiplinan, tanggung jawab, cinta ilmu, keingintahuan, percaya diri, menghargai keberagaman, kepatuhan terhadap aturan sosial, gaya hidup sehat, kesadaran akan hak dan kewajiban, kerja keras
2. PKn Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis, nasionalis, kepatuhan terhadap aturan sosial, menghargai keberagaman, sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
3. Bahasa Indonesia Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis, berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif, percaya diri, tanggung jawab, keingintahuan, kesantunan, nasionalis
4. Matematika Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis, berpikir logis, kritis, kerja keras, keingintahuan, kemandirian, percaya diri
5. IPS Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis, nasionalis, menghargai keberagaman, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, kepedulian sosial dan lingkungan, berjiwa wirausaha, kerja keras
6. IPA Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis, keingintahuan, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, kejujuran, gaya hidup sehat, percaya diri, menghargai keberagaman, kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, cinta ilmu, kecermatan dan ketelitian.
7. Bahasa Inggris Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis, menghargai keberagaman, kesantunan, percaya diri, kemandirian, kerjasama,kepatuhan pada aturan sosial
8. Seni Budaya
Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis,, menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, keingintahuan, kedisiplinan.
9. Penjasorkes Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis, gaya hidup sehat, kerja keras, kedisiplinan, percaya diri, kemandirian, menghargai karya dan prestasi orang lain
10.TIK/ Keterampilan Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, kemandirian, tanggung jawab, dan menghargai karya orang lain
11. Muatan Lokal Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis, menghargai keberagaman, menghargai karya orang lain, nasionalis

Tabel 1.1. Contoh Distribusi Nilai-Nilai Utama ke dalam Mata Pelajaran

F. Pembelajaran yang Mengembangkan Karakter

Sebagaimana disebutkan di depan, integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. Di antara prinsip-prinsip yang dapat diadopsi dalam membuat perencanaan pembelajaran (merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian dalam silabus, RPP, dan bahan ajar), melaksanakan proses pembelajaran, dan evaluasi yang mengembangkan karakter adalah prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selama ini telah diperkenalkan kepada guru, termasuk guru-guru SMP seluruh Indonesia sejak 2002.

Pada dasarnya pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru dalam mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata siswa, dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka. Pembelajaran kontekstual menerapkan sejumlah prinsip belajar. Prinsip-prinsip tersebut secara singkat dijelaskan berikut ini.

1. Konstruktivisme (Constructivism)

Konstrukstivisme adalah teori belajar yang menyatakan bahwa orang menyusun atau membangun pemahaman mereka terhadap sesuatu berdasarkan pengalaman-pengalaman baru dan pengetahuan awal dan kepercayaan mereka.

Pemahaman konsep yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman belajar otentik dan bermakna; guru mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk mendorong aktivitas berpikirnya. Pembelajaran dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’ pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran dirancang dalam bentuk siswa bekerja, praktik mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan, menciptakan gagasan, dan sebagainya.

Tugas guru dalam pembelajaran konstruktivis adalah memfasilitasi proses pembelajaran dengan:

a. menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa,
b. memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri,
c. menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

Penerapan teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis dan logis, mandiri, cinta ilmu, rasa ingin tahu, menghargai orang lain, bertanggung jawab, dan percaya diri.

2. Bertanya (Questioning)

Penggunaan pertanyaan untuk menuntun berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi untuk memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat diuji, dan belajar untuk saling bertanya tentang bukti, interpretasi, dan penjelasan. Pertanyaan digunakan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:

(a) menggali informasi, baik teknis maupun akademis
(b) mengecek pemahaman siswa
(c) membangkitkan respon siswa
(d) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa
(e) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
(f) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
(g) menyegarkan kembali pengetahuan siswa

Pembelajaran yang menggunakan pertanyaan-pertanyaan untuk menuntun siswa mencapai tujuan belajar dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis dan logis, rasa ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, santun, dan percaya diri.

3. Inkuiri (Inquiry)

Inkuiri adalah proses pembelajaran yang diawali dengan pengamatan dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut didapat melalui siklus menyusun hipotesis, mengembangkan cara pengujian hipotesis, membuat pengamatan, dan menyusun teori serta konsep yang berdasar pada data dan pengetahuan.

Langkah-langkah kegiatan inkuiri:

a) merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun)
b) Mengamati atau melakukan observasi
c) Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lain
d) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau yang lain

Pembelajaran yang menerapkan prinsip inkuiri dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis, logis, kreatif, dan inovatif, rasa ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, santun, jujur, dan tanggung jawab.

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Masyarakat belajar adalah sekelompok siswa yang terikat dalam kegiatan belajar agar terjadi proses belajar lebih dalam. Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk bicara dan berbagi ide, mendengarkan ide siswa lain dengan cermat, dan bekerjasama untuk membangun pengetahuan dengan teman di dalam kelompoknya. Konsep ini didasarkan pada ide bahwa belajar secara bersama lebih baik daripada belajar secara individual.

Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi jika tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu. Semua pihak mau saling mendengarkan.

Praktik masyarakat belajar terwujud dalam:
(a) Pembentukan kelompok kecil
(b) Pembentukan kelompok besar
(c) Mendatangkan ‘ahli’ ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, petani, polisi, dan lainnya)
(d) Bekerja dengan kelas sederajat
(e) Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya
(f) Bekerja dengan masyarakat

Penerapan prinsip masyarakat belajar di dalam proses pembelajaran dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain kerjasama, menghargai pendapat orang lain, santun, demokratis, patuh pada turan sosial, dan tanggung jawab.

5. Pemodelan (Modeling)

Pemodelan adalah proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar. Pemodelan tidak jarang memerlukan siswa untuk berpikir dengan mengeluarkan suara keras dan mendemonstrasikan apa yang akan dikerjakan siswa. Pada saat pembelajaran, sering guru memodelkan bagaimana agar siswa belajar. Guru menunjukkan bagaimana melakukan sesuatu untuk mempelajari sesuatu yang baru. Guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.

Contoh praktik pemodelan di kelas:

a) Guru olah raga memberi contoh berenang gaya kupu-kupu di hadapan siswa
b) Guru PKn mendatangkan seorang veteran kemerdekaan ke kelas, lalu siswa diminta bertanya jawab dengan tokoh tersebut
c) Guru Geografi menunjukkan peta jadi yang dapat digunakan sebagai contoh siswa dalam merancang peta daerahnya
d) Guru Biologi mendemonstrasikan penggunaan thermometer suhu badan

Pemodelan dalam pembelajaran antara lain dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, menghargai orang lain, dan rasa percaya diri.

6. Refleksi (Reflection)

Refleksi dilakukan agar siswa memikirkan kembali apa yang telah mereka pelajari dan lakukan selama proses pembelajaran untuk membantu mereka menemukan makna personal masing-masing. Refleksi biasanya dilakukan pada akhir pembelajaran antara lain melalui diskusi, tanya-jawab, penyampaian kesan dan pesan, menulis jurnal, saling memberi komentar karya, dan catatan pada buku harian.

Refleksi dalam pembelajaran antara lain dapat menumbuhkan kemampuan berfikir logis dan kritis, mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri, dan menghargai pendapat orang lain.

7. Penilaian otentik (Authentic assessment)

Penilaian autentik sesungguhnya adalah suatu istilah yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah. Berbagai simulasi tersebut semestinya dapat mengekspresikan prestasi (performance) yang ditemui di dalam praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Penilaian autentik seharusnya dapat menjelaskan bagaimana siswa menyelesaikan masalah dan dimungkinkan memiliki lebih dari satu solusi yang benar. Strategi penilaian yang cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah suatu kombinasi dari beberapa teknik penilaian.

Penilaian autentik dalam pembelajaran dapat mengembangkan berbagai karakter antara lain kejujuran, tanggung jawab, menghargai karya dan prestasi orang lain, kedisiplinan, dan cinta ilmu.



G. Penggunaan BSE untuk Pendidikan Karakter

1. Potensi penggunaan BSE dalam pendidikan karakter

Buku-buku pelajaran SMP yang telah masuk dalam daftar BSE memenuhi kelayakan isi, penyajian, bahasa, dan grafika. Dalam hal isi, setiap BSE memuat semua SK/KD sebagaimana ditetapkan melalui Permen Diknas 22/2006 dengan cakupan dan kedalaman pembahasan yang memadai. Selanjutnya isi/materi disajikan dan/atau dibelajarkan melalui pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Banyak di antara kegiatan-kegiatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pelaku pembelajaran yang aktif. Bahasa untuk menyajikan materi merupakan bahasa Indonesia yang baku, sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa SMP, dan gagasan/pesan disajikan secara koheren. Dari sisi grafika, BSE memenuhi berbagai ketentuan kegrafikaan. Selain itu, BSE pada umumnya tidak bias gender, mengembangkan keberagaman/kebhinekaan, serta jiwa kewirausahaan.

Memperhatikan ciri-ciri tersebut di atas, BSE memiliki potensi yang sangat besar untuk digunakan mengembangkan karakter peserta didik secara terpadu dalam pembelajaran. Hanya dengan melakukan sejumlah revisi, buku-buku tersebut dapat digunakan untuk melaksanakan pendidikan karakter secara terintegrasi dalam pembelajaran.

2. Strategi umum penggunaan BSE untuk pendidikan karakter

Di depan disebutkan bahwa BSE memiliki potensi yang sangat besar untuk digunakan mengembangkan karakter peserta didik secara terpadu dalam pembelajaran. Dengan melakukan adaptasi seperlunya, buku-buku pelajaran yang telah masuk daftar BSE akan dengan efektif memfasilitasi peserta didik memperoleh pengetahuan, mengembangkan keterampilan/kecakapan, dan membangun karakter. Berikut empat jenis adaptasi yang dapat dilakukan. Adaptasi jenis a, b, c, dan d berturut-turut dari yang paling dianjurkan ke yang kurang dianjurkan.

a. Adaptasi lengkap sebelum pembelajaran dilaksanakan

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam tiga aspek sekaligus, yaitu isi, kegiatan pembelajaran, dan teknik evaluasi dari bahan ajar. Revisi (misalnya penambahan isi, reformulasi dan/atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan dan/atau perubahan teknik evaluasi) dilakukan secara tertulis pada bahan ajar yang direvisi. Setelah revisi selesai bahan ajar tersebut dicetak dan diberikan kepada siswa.

b. Adaptasi sebagian/parsial sebelum pembelajaran dilaksanakan

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam satu atau dua dari tiga aspek berikut: isi, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi dari bahan ajar. Revisi (misalnya penambahan isi, atau reformulasi dan/atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan dan/atau perubahan teknik evaluasi) dilakukan secara tertulis pada bahan ajar yang direvisi. Setelah revisi selesai bahan ajar tersebut dicetak dan diberikan kepada siswa.

c. Adaptasi sebagian/parsial sebelum pembelajaran dilaksanakan

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam satu atau dua dari tiga aspek berikut: isi, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi dari bahan ajar. Guru membuat sejumlah adaptasi (misalnya penambahan isi, perubahan atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan atau perubahan teknik penilaian) secara tertulis tetapi pada lembar terpisah, tidak menyatu dengan bahan ajar. Catatan-catatan pada lembar-lembar terpisah tersebut digunakan oleh guru selama proses pembelajaran.

d. Adaptasi sebagian/parsial selama pembelajaran dilaksanakan (isi dan/atau kegiatan pembelajaran dan/atau evaluasi)

Adaptasi jenis ini mencakup revisi dalam satu atau dua dari tiga aspek berikut: isi, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi dari bahan ajar. Guru membuat sejumlah adaptasi (misalnya penambahan isi, perubahan atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan atau perubahan teknik penilaian) secara spontan selama proses pembelajaran berlangsung.



















BAGIAN II: PANDUAN KHUSUS
MATA PELAJARAN IPA


A. Nilai-nilai Karakter untuk Mata Pelajaran IPA
1. Pengertian IPA
Sains atau IPA mempelajari permasalahan yang berkait dengan fenomena alam dan berbagai permasalahan dalam kehidupan masyarakat. Fenomena alam dalam IPA dapat ditinjau dari objek, persoalan, tema, dan tempat kejadiannya. Dalam buku UNESCO Handbook for Science Teacher (Unesco, dalam Karso, 1994) dikatakaan bahwa IPA adalah suatu kumpulan teori-teori yang telah diuji kebenarannya, menjelaskan tentang pola-pola dan keteraturan maupun gejala alam yang telah diamati secara seksama.
Metode pembelajaran IPA menurut Bernal (1969) merupakan kegiatan mental maupun fisik, termasuk di dalamnya adalah observasi, eksperimentasi, klasifikasi, pengukuran dan juga melibatkan teori-teori hipotesis serta hukum-hukum, lebih spesifik disampaikan bahwa IPA dapat dilihat sebagai suatu metode. Metode IPA ini merupakan suatu perangkat aturan-aturan untuk memecahkan masalah, untuk mendapatkan atau mengetahui penyebab dari suatu kejadian dan untuk mendapatkan hukum-hukum ataupun teori dari objek yang diamati. Metode ilmiah merupakan suatu logika yang umum digunakan untuk menilai suatu masalah. Metode ilmiah memiliki perangkat norma-norma yang dibakukan sehingga kesimpulan yang didapatkan masuk akal dan dapat dipercaya.
Muslimin Ibrahim, dkk (2004) menjelaskan bahwa metode ilmiah adalah suatu cara dalam memperoleh pengetahuan, yaitu suatu rangkaian prosedur tertentu harus diikuti untuk mendapatkan jawaban tertentu dari pernyataan tertentu pula dengan langkah: (1) Kesadaran dan perumusan masalah; (2) Pengamatan dan pengumpulan data; (3) Penyusunan dan klasifikasi data; (4) Perumusan hipotesis; (5) Deduksi dan hipotesis; (6) Tes dan pengujiaan kebenaran (verifikasi) dari hipotesis.
Pembelajaran IPA memerlukan kegiatan penyelidikan, baik melalui observasi maupun eksperimen, sebagai bagian dari kerja ilmiah yang melibatkan keterampilan proses yang dilandasi sikap ilmiah. Selain itu, pembelajaran IPA mengembangkan rasa ingin tahu melalui penemuan berdasarkan pengalaman langsung yang dilakukan melalui kerja ilmiah. Melalui kerja ilmiah, peserta didik dilatih untuk memanfaatkan fakta, membangun konsep, prinsip, teori sebagai dasar untuk berpikir kreatif, kritis, analitis, dan divergen. Pembelajaran IPA diharapkan dapat membentuk sikap peserta didik dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka akhirnya menyadari keindahan, keteraturan alam, dan meningkatkan keyakinannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Proses memecahkan masalah dalam IPA menggunakan metode-metode yang dikenal dengan nama metode ilmiah dengan alur kegiatan sebagai berikut:
Pada saat menggunakan metode ilmiah, kita mengikuti suatu proses untuk memecahkan masalah suatu masalah dalam IPA. Diagram di bawah ini adalah proses yang dimaksud.












































2. Nilai-nilai IPA
a. Nilai-nilai sosial dari IPA
IPA baik sebagai suatu kumpulan pengetahuan ilmiah maupun sebagai suatu proses untuk mendapatkan ilmu itu sendiri, mempunyai nilai-nilai etik dan estetika yang tinggi. Nilai-nilai itu terletak pada sistem yang menetapkan "kebenaran yang objektif" pada tempat yang paling utama. Proses IPA itu sendiri dapat dianggap sebagai suatu latihan untuk mencari, meresapkan, dan menghayati nilai-nilai luhur itu.
Selain itu dalam kalangan ilmuwan terdapat hubungan "saling percaya", mereka mempunyai kebebasan dengan caranya sendiri merumuskan hukum-hukum yang mereka temukan dengan metode yang mereka gunakan. Temuan pada masa lalu yang kurang sempurna merupakan jembatan untuk temuan yang lebih sempurna.




b. Nilai-nilai Psikologis/Pedagogis dari IPA

Nilai Psikologis/Pedagogis Definisi
Sikap Mencintai Kebenaran IPA selalu mendambakan kebenaran yaitu kesesuaian pikiran dan kenyataan, yaitu selalu terlibat dalam proses yang dapat mendorong untuk berlaku jujur dan objektif dalam segala aktivitasnya.
Sikap Tidak Purbasangka IPA membimbing kita untuk tidak berfikir secara prasangka. Kita boleh saja mengadakan dugaan yang masuk akal (hipotesis) asal dugaan itu diuji kebenarannya sesuai kenyataan atau tidak, baru menetapkan kesimpulan.
Menyadari Kebenaran Ilmu Tidak Mutlak Atas kesadarannya bahwa kesimpulan yang didapat hanya berlaku sementara(tidak mutlak) atau menyadari bahwa pengetahuan yang di dapat itu baru sebagian yang bisa dicapai, maka hal ini akan menjadikan orang itu "bersikap rendah hati dan tidak sombong".
Keyakinan Bahwa Tatanan Alam Tidak Teratur Mempelajari tentang hubungan antar gejala alam dan menemukan adanya kaidah-kaidah atau hukum-hukum alam yang ternyata begitu konsisten aturan-aturannya maka orang akan menyadari bahwa alam semesta itu telah ditata dengan sangat teratur. Hal ini dapat memberikan pengaruh positif untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bersifat Toleran Terhadap Orang Lain Menyadari bahwa pengetahuan yang ia miliki bersifat tidak mutlak sempurna maka ia dapat menghargai pendapat orang lain yang ternyata lebih mengetahuinya atau lebih sempurna untuk memperbaiki, melengkapi maupun untuk meningkatkan pengetahuannya. Ia juga tidak bersikap memaksakan pendapatnya untuk diterima orang lain.
Bersikap Ulet Aktivitas mencari kebenaran dalam IPA akan menciptakan sikap tidak putus asa dan selalu berusaha untuk mencari kebenaran itu walaupun seringkali tidak memperoleh apa-apa.
Sikap Teliti dan Hati-hati Metode ilmiah yang dilaksanakan dengan benar akan mendorong seseorang memiliki sifat-sifat yang baik yaitu teliti dalam melakukan sesuatu serta hati-hati dalam mengambil kesimpulan ataupun dalam mengeluarkan pendapatnya.
Sikap Ingin Tahu (Corious) Rasa ingin tahu merupakan titik tolak atau titik awal dari pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Sikap ini mendorong manusia untuk mencari tahu lebih banyak. Ilmu pengetahuan yang mereka peroleh tentunya bermanfaat bagi dirinya ataupun orang lain.



Nilai Psikologis/Pedagogis Definisi
Sikap Optimis Ilmuwan IPA selalu optimis, karena mereka sudah terbiasa dengan suatu eksperimentasi yang tak selalu menghasilkan sesuatu yang mereka harapkan, namun bila berhasil, temuannya itu akan memberikan imbalan kebahagiaan yang tak ternilai dengan uang. Oleh karena itu ilmuwan IPA berpendirian bahwa segala sesuatu tidaklah ada yang tak mungkin dikerjakan. Sesuatu permasalahan yang muncul dihadapinya dengan ungkapan kata-kata "akan saya pikirkan", "mari kita coba" atau "berilah saya kesempatan", yaitu ungkapan kata-kata dari seorang yang optimis.

Berdasarkan karakteristik IPA tersebut maka potensi untuk diintegrasikan dengan nilai karakter seperti yang telah dijelaskan dalam Bab I adalah sebagai berikut.

1) Karakter Pokok

Nilai karakter utama pada matapelajaran IPA dapat dikemukakan, dideskripsikan, dan dirumuskan indikatornya seperti berikut.

Nomor
Nilai/Karakter
Indikator
1.
Kereligiusan • Menggunakan fakta keteraturan fenomena alam sebagai rujukan membangun konsep, teori, atau hukum untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME
• Mengagumi kebesaran ciptaan Tuhan
• Melakukan konservasi sumber daya alam
• Selalu berdoa dalam melakukan usaha
2.
Kejujuran • Melakukan pengamatan sesuai prosedur ilmiah yang digunakan
• Menyajikan data berdasarkan hasil pengamatan atau percobaan
• Menganalisis data sesuai kaidah ilmiah
• Menarik kesimpulan hasil percobaan berdasar hasil analisis data yang telah dilakukan
3. Kecerdasan • Mampu mengambil kesimpulan/keputusan secara cepat dan tepat berdasar hasil analisis yang telah dilakuakan
• Mampu memilah dan menggunakan alat lab yang cocok untuk suatu kegiatan percobaan
• Mampu memberikan solusi yang tepat
4. Ketangguhan • Yakin dengan pendapatnya
• Melakukan pengulangan pengamatan/eksperimen untuk mendapatkan data yang akurat

5. Demokratis • Memiliki kebebasan bertindak yang bertanggungjawab dan kesamaan hak
• Memberi kesempatan orang lain untuk menyampaikan pendapatnya
• Melaksanakan pengamatan/eksperimen yang dibebankan
• Memberikan beban tugas yang sama pada siswa pada saat pengamatan/eksperimen
6. Kepedulian • Berbagi tugas dalam melaksanakan kegiatan eksperimen
• Menggunakan alat lab sesuai prosedur keselamatan yang ada
• Menaruh perhatian secara penuh pada aspek keselamatan dan kesehatan kerja di lab
• Membantu temannya yang mengalami kesulitan/kecelakaan kerja di lab

2) Karakter utama IPA

Sejalan dengan rumusan karakter yang dikembangkan pada jenjang SMP dan karakteristik IPA, maka dalam mata pelajaran IPA secara spesifik peserta didik akan dididik dan dilatih untuk mengembangkan karakter sebagai berikut.

Nomor Nilai/Karakter Indikator
1. Keingintahuan • Suka bertanya secara mendalam dan meluas
• Membaca untuk menemukan informasi
• Mengajukan pertanyaan
2. Berpikir logis • Mampu menggunakan pikiran rasional untuk mengambil keputusan.

3. Berpikir kritis, kreatif, dan inovatif • Mampu menggunakan pikiran untuk menghasilkan ide asli.

4.
Gaya hidup sehat
• Memiliki kegiatan positif untuk menjaga pola hidup sehat
5. Percaya diri • Mampu menyampaikan ide atau melakukan sesuatu dengan yakin dan benar

6. Menghargai keberagaman • Menghargai pendapat orang lain tanpa memperhatikan latar belakangnya atau tanpa memperhatikan perbedaan bentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama.
7. Kedisiplinan • Mampu melakukan sesuatu secara berkelanjutan sesuai prosedur yang berlaku
• Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
8. Kemandirian • Mampu melakukan kegiatan akademik secara sendiri

9. Tanggung jawab • Berhati-hati saat bekerja dengan alat dan bahan.
• Melakukan kegiatan sesuai dengan prosedur yang diberikan.
• Mampu mencapai tujuan melalui kegiatan individual maupun kelompok
10. Cinta ilmu • Mampu menjadi pebelajar sepanjang hayat
11. Ketelitian dan kecermatan • Memiliki sikap hati-hati, seksama, dan teliti
12. Kesantunan • Mampu berkomunikasi secara efisien dan efektif tanpa menyinggung perasaan orang lain.

B. Kegiatan Pembelajaran yang Mengembangkan Karakter pada Pembelajaran IPA

prinsip-prinsip Contextual Teaching and Learning seperti yang telah dijabarkan pada Bab I, disarankan diaplikasikan pada semua tahapan pembelajaran karena prinsip-prinsip pembelajaran tersebut sekaligus dapat memfasilitasi terinternalisasinya nilai-nilai. Selain itu, perilaku guru sepanjang proses pembelajaran harus merupakan model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta didik.
Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran IPA berorientasi pada siswa. Peran guru bergeser dari menentukan “apa yang akan dipelajari” ke “bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa”. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan, dan sumber lain.
Ada beberapa model pembelajaran yang telah dikembangkan sebagai aplikasi dari Contextual Teaching and Learning dalam melaksanakan pembelajaran IPA model-model tersebut adalah : Direct instruction (pengajaran langsung) dan cooperative learning (pembelajaran kooperatif) keduanya dapat digunakan untuk memperkaya pelaksanaan pembelajaran mengintegrasikan pendidikan karakter.
Aktivitas atau metode pembelajaran juga model pembelajaran yang dominan dan biasa dipergunakan pada matapelajaran IPA adalah:
MODEL METODE Potensi Nilai Karakter yang Mungkin
Direct Instruction Pengamatan (Mengajukan pertanyaan, mendata, mengklasifikasi, menganalisis data, dan menyimpulkan) Kereligiusan, kejujuran, berpikir logis, Berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, demokratis, tanggung jawab, menghargai keberagaman Ketelitian dan kecermatan, kesantunan, gaya hidup sehat, percaya diri, kedisiplinan.

Berikut contoh aplikasi penggunaan model, metode, integrasi nilai karakter dalam pembelajaran Direct Instruction:
Fase-fase Aktivitas yang difasilitasi oleh Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa Menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar
Fase 2
Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
Mendemonstrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap


Fase-fase Aktivitas yang difasilitasi oleh Guru
Fase 3
Membimbing pelatihan
Merencanakan dan memberi bimbingan awal
Fase 4
Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik
Fase 5
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan Mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari


Contoh pada materi pengukuran
1. KEGIATAN PENDAHULUAN
a. Peserta didik diminta pendapat tentang pentingnya pengukuran dalam kehidupan sehari-hari dan diminta memberikan contoh manfaat dilakukannya pengukuran (Fase 1) (berpikir logis)
b. Guru menyampaikan tujuan/kompetensi yang akan dicapai serta cakupan materi yang akan dipelajari (Fase 1)

2. KEGIATAN INTI
a. Guru melakukan demonstrasi pengukuran panjang dengan menggunakan jangka sorong, dengan menyajikan informasi tahap demi tahap (Fase 2)
b. Peserta didik mendemonstrasikan pengukuran panjang dengan menggunakan jangka sorong yang benar (Fase 3) (ketelitian dan kecermatan)
c. Guru memberi bimbingan pelatihan awal dilanjutkan dengan memberikan kesempatan peserta didik berinteraksi dalam diskusi kelompok dan memberi umpan balik untuk memperoleh kesimpulan tentang tingkat ketelitian alat ukur panjang (Fase 3) (menghargai pendapat)
d. Peserta didik melakukan presentasi tentang hasil pengukuran yang dilakukan tiap kelompok dan peserta didik diminta melakukan refleksi untuk memperoleh langkah-langkah pengukuran yang benar (Fase 4) (percaya diri dan kesantunan)
e. Guru meberikan tugas kepada peserta didik untuk melakukan pengukuran yang relevan dengan jangka sorong terhadap benda-benda di sekitarnya dalam kehidupan sehari – hari (Fase 5) (ketelitian dan kecermatan)

3. KEGIATAN PENUTUP
a. Peserta didik menyimpulkan tingkat ketelitian hasil pengukuran dengan menggunakan penggaris dan jangka sorong (tanggung jawab)
b. Guru memberi penghargaan pada peserta didik yang berperan aktif dalam kegiatan diskusi dan presentasi (Kepedulian)




MODEL METODE Potensi Nilai Karakter yang Mungkin
Cooperative Learning Pengamatan (Mengajukan pertanyaan, mendata, mengklasifikasi, menganalisis data, dan menyimpulkan) Kereligiusan, kejujuran, berpikir logis, Berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, demokratis, tanggung jawab, menghargai keberagaman Ketelitian dan kecermatan, kesantunan, gaya hidup sehat, percaya diri, kedisiplinan.
Eksperimen/Penyelidikan/penemuan (merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang percobaan, mendata, mengklasifikasi, menganalisis data, menyimpulkan) Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis, keingintahuan, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, gaya hidup sehat, percaya diri, menghargai keberagaman, kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, cinta ilmu, kecermatan dan ketelitian.
Berikut contoh aplikasi penggunaan model, metode, integrasi nilai karakter dalam pembelajaran Cooperative Learning:

Fase-fase Aktivitas yang difasilitasi oleh Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Menyampaikan semua tujuan yang ingin dicapai selama pembelajaran dan memotivasi siswa belajar
Fase 2
Menyajikan informasi Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Fase 3
Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar Membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka

Fase 5
Evaluasi Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta kelompok mempresentasikan hasil karyanya
Fase 6
Memberikan penghargaan Menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
Contoh pada materi ekosistem
Pendahuluan
1) Mengajak peserta didik berdoa/mensukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa, Menyampaikan salam dan menanyakan keadaan peserta didik apakah dalam kondisi sehat dan siap belajar IPA, mengecek kehadiran, kebersihan dan kerapian kelas (Kereligiusan)
2) Peserta didik mempresentasikan hasil tugas mencari berita tentang akibat banjir. (Pada pertemuan sebelumnya, peserta didik diberi tugas membaca artikel tentang banjir dan akibatnya)(Keingintahuan, Cinta Ilmu)
3) Guru menyampaikan tujuan atau kompetensi yang akan dicapai.
a. Kegiatan Inti
1) Peserta didik diminta membaca materi tentang kerusakan lingkungan dan menggarisbawahi konsep penting dengan kecermatan dan ketelitian
2) Peserta didik memperhatikan penjelasan tentang aturan diskusi untuk mengkaji hasil pengamatan lingkungan alami dan lingkungan yang mengalami kerusakan.
3) Peserta didik dikelompokkan dalam kelompok kooperatif yang beranggotakan 4 atau 5 siswa dengan memperhatikan heterogenitas akademik dan jenis kelamin.
4)



5) Peserta didik melakukan pengamatan dengan keingintahuan dan menuliskan hasil pengamatan dengan kejujuran, kecermatan dan ketelitian serta bertanggungjawab dengan anggota kelompok.
Peserta didik bertanggungjawab mendiskusikan hasil pengamatan pada lingkungan alami dan lingkungan yang mengalami kerusakan dengan memperhatikan ciri, faktor penyebab, akibat, dan upaya penanggulangan kerusakan.
Selama diskusi perserta didik mendapat bimbingan dari guru.
6) Beberapa kelompok mempresentasikan hasil kegiatannya, dan kelompok lain memberikan tanggapannya (menghargai keberagaman)
7) Penghargaan diberikan pada kelompok yang kinerjanya paling baik dan baik.

b. Penutup
1) Peserta didik menyimpulkan konsep kerusakan lingkungan dan Guru membantu peserta didik bila ada kesulitan (Kepedulian)
2) Setiap kelompok diminta untuk membawa 10 ekor ikan hias kecil-kecil dan sabun detergen untuk percobaan pertemuan berikutnya.

*) Contoh integrasi nilai karakter pada perencanaan pembelajaran silabus dan RPP untuk kelas VII lengkap terlampir.

C. Penggunaan BSE Mata Pelajaran IPA untuk Pendidikan Karakter

1. Gambaran umum BSE Mata Pelajaran IPA

Secara umum bahan ajar BSE IPA yang beredar di sekolah untuk kelas VII (Penulis Ani dkk., Teguh dkk.; dan Wasis dkk.) adalah sebagai berikut:

No Aspek Hasil Telaah
a. Isi Telah baik dan sesuai dalam hal: Cakupan dan kedalaman materi pokok sesuai dengan yang diamanatkan SK dan KD, kebenaran konten (fakta, konsep, teori dan prinsip/ hukum), kemutakhiran isi sesuai dengan perkembangan ilmu, materi yang disajikan dapat memotivasi siswa menimbulkan gagasan baru, menumbuhkan rasa ingin tahu, mengembangkan kecakapan hidup (personal, sosial, akademik dan vokasional), memperhatikan keterkaitan sains, teknologi dan masyarakat

Catatan: untuk BSE dengan penulis Ani dkk, Teguh dkk dari sisi isi hanya berisi informasi saja



No Aspek Hasil Telaah
b. Metoda Pembelajaran Telah baik dan sesuai dalam hal: Memenuhi konsep konstruktivis, siswa membangun pemahaman sendiri dari pengalaman baru berdasarkan pada pengalaman awal, menumbuhkan rasa ingin tahu, mendorong untuk mencari informasi lebih jauh, memenuhi komponen bertanya (pertanyaan untuk mengecek pemahaman siswa), Memotivasi siswa untuk berkomunikasi, berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain, dan menciptakan umpan balik.

Catatan: untuk BSE dengan penulis Ani dkk, Teguh dkk dari kegiatan hanya menyediakan kegiatan yang bersifat resep saja.
c. Bahasa Telah baik dan sesuai dalam hal: Bahasa yang dipakai sesuai dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, materi disajikan dengan bahasa yang menarik, bahasa yang digunakan dapat memotivasi siswa untuk belajar, memungkinkan siswa seolah-olah berkomunikasi dengan penulis buku siswa, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, istilah yang digunakan tepat dan dapat dipahami, dan menggunakan istilah dan simbol secara ajeg.
d. Grafika Menarik, memperjelas konsep, relevan dengan bahasan yang ada dan banyak gambar untuk memperjelas konsep yang masih abstrak.
e. Berdasarkan karakteristik buku BSE kelas VII yang dipergunakan sekolah, maka potensi nilai karakter dapat di sisipkan pada setiap komponen buku ajar.


2. Strategi Penggunaan BSE untuk Pendidikan Karakter
Berikut adalah contoh penggunaan BSE untuk pendidikan karakter adaptasi lengkap sebelum pembelajaran dilaksanakan dan adaptasi tersebut dari sisi isi, kegiatan pembelajaran,dan evaluasi.

Contoh IPA-Biologi
SK: Memahami keanekaragaman makhluk hidup.
KD: Mendeskripsikan keragaman pada sistem organisasi kehidupan mulai dari tingkat sel sampai organisme.
Judul: Contextual Teaching and Learning Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah




Sel-sel penyusun tubuh kita seperti komponen-komponen dalam suatu organisasi yang masing-masing komponen mempunyai tugas sendiri-sendiri. Apabila ada salah satu saja komponen yang tidak menjalankan fungsinya maka organisasi tersebut tidak akan dapat menjalankan fungsinya. Bagaimana halnya dengan bekerja dalam kelompok kecil seperti ketika kalian mendapat tugas dari gurumu untuk mengerjakan tugas dalam kelompok? Apakah hasilnya akan baik jika ada salah satu anggota tidak menjalankan tugasnya? Setiap anggota kelompok harus memiliki tugas yang spesifik untuk penyelesaian tugas sehingga akan memberi hasil yang luar biasa. (tambahan)



























Hasil adaptasi lengkap materi di atas yaitu:
• Isi, keseluruhan materi ajar pada Bab Organisasi Kehidupan dengan ditambahkan nilai karakter yang sesuai dengan KD yaitu demokratis dan kerja sama. Pada halaman 216 setelah alinea pertama disisipkan materi pendidikan karakter).
• Kegiatan Pembelajaran, kegiatan pengamatan untuk membandingkan sel hewan dengan sel tumbuhan dengan menekankan kemandirian dalam menggunakan mikroskop dan membuat preparat yang akan diamati. Kegiatan Proyek Membuat Model Sel untuk membiasakan berpikir cerdik, kreatif dan inovatif. Kegiatan mengamati organ-organ suatu organisme dilakukan dalam kelompok untuk membiasakan kerja sama dan sikap demokratis dalam mengambil keputusan. Kegiatan 8.1 pada halaman sedapat mungkin dilakukan oleh siswa secara mandiri. Bimbingan dari guru bersifat membantu siswa untuk dapat melakukan prosedur dengan baik.
• Evaluasi, soal berpikir kritis di halaman 240, dapat ditambahkan dengan menanyakan tentang akibat jika salah satu organ tubuh tidak berfungsi untuk memahamkan perlunya semua komponen dalam suatu organisasi memiliki peran yang sama. Evaluasi bagian Berpikir Kritis pada halaman 240 digunakan seluruhnya untuk menilai kemampuan berpikir kritis siswa, dan dapat juga ditambahkan dengan menanyakan tentang akibat jika salah satu organ tubuh tidak berfungsi untuk memahamkan perlunya semua komponen dalam suatu organisasi memiliki peran yang sama pentingnya dan perlunya menghargai pendapat atau hasil karya orang lain.

Contoh IPA-Fisika
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)
SK: Memahami prosedur ilmiah untuk mempelajarai benda-benda alam dengan menggunakan peralatan
KD: Melakukan pengukuran dasar secara teliti dengan menggunakan alat ukur yang sesuai dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari

Judul: Contextual Teaching and Learning Ilmu Pengetahuan Alam: Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VII Edisi 4


Materi ajar dari BSE utama.

Pernahkah kamu pergi ke penjahit baju? Bagaimana seorang penjahit dapat membuatkan baju seragam sekolah seorang murid SMP/MTS dengan ukuran yang tepat? Kamu pernah pergi ke toko kelontong? Bagaimana penjual dapat melayani barang-barang yang diperlukan oleh pembeli dengan takaran yang sesuai? Kamu pernah mengikuti atau menonton lomba lari? Bagaimanakah menentukan pemenangnya secara tepat? Semua peristiwa di atas terkait dengan kegiatan pengukuran.
Pada bab ini, kamu akan mendiskusikan dan melakukan berbagai kegiatan pengukuran dengan menggunakan alat-alat ukur yang sesuai. Kamu juga akan mempelajari berbagai besaran beserta satuannya.


Merancang Alat Ukur Sendiri
(Karakter: Berpikir inovatif, ketelitian dan kecermatan, tanggung jawab, dan menghargai keberagaman)
1. Gunakan suatu benda yang ada di kelasmu sebagai alat pengukur panjang, misalnya buku, pensil, tangan atau benda lain yang mudah kamu dapatkan.
2. Bersama temanmu, ukurlah panjang bangku, lebar ruangan kelas atau jarak dua benda yang ada di dekatmu dengan menggunakan alat-alat pengukur panjang yang telah kamu peroleh. Catatlah hasilnya dan buatlah nama satuan ukurannya menurutmu sendiri.
3. Sekarang, mintalah salah seorang temanmu untuk melakukan pengukuran yang sama dengan menggunakan alat-alat pengukur panjang yang dia temukan sendiri. Jangan lupa, dia juga harus mencatat hasilnya beserta satuan ukuran yang dia buat sendiri.








Materi tambahan dari BSE Pelengkap





Adaptasi Kegiatan Pembelajaran
(Karakter: Berpikir inovatif, ketelitian dan kecermatan, tanggung jawab, dan menghargai keberagaman)

Merancang Alat Ukur Sendiri

1. Gunakan suatu benda yang ada di kelasmu sebagai alat pengukur panjang, misalnya buku, pensil, tangan atau benda lain yang mudah kamu dapatkan.
2. Bersama temanmu, ukurlah panjang bangku, lebar ruangan kelas atau jarak dua benda yang ada di dekatmu dengan menggunakan alat-alat pengukur panjang yang telah kamu peroleh. Catatlah hasilnya dan buatlah nama satuan ukurannya menurutmu sendiri.
3. Sekarang, mintalah salah seorang temanmu untuk melakukan pengukuran yang sama dengan menggunakan alat-alat pengukur panjang yang dia temukan sendiri. Jangan lupa, dia juga harus mencatat hasilnya beserta satuan ukuran yang dia buat sendiri.



Adaptasi Evaluasi

LP 2 (2) Lember Tes Unjuk Kerja
Lembar tes unjuk kerja untuk menilai kinerja peserta didik “membaca hasil pengukuran panjang dengan menggunakan jangka sorong”
No Aspek yang dinilai Dilakukan Tidak dilakukan
1 Memasang benda yang akan diukur pada jangka sorong dengan tepat
2 Menggeser posisi nonius dengan hati-hati
3 Membaca skala utama pada jangka sorong
4 Membaca skala nonius pada jangka sorong
5 Membaca nilai panjang dengan satuan yang benar
6 Mengembalikan posisi nonius dalam keadaan rapat
7 Menentukan kesalahan pengukuran

LP 3 Lembar Observasi
Lembar observasi dalam diskusi kelompok untuk menilai “sikap menghargai pendapat orang lain” dalam menyusun laporan hasil pengukuran panjang.
No Aspek yang dinilai Dilakukan Tidak dilakukan
1 Menyampaikan hasil pengukuran yang diperoleh dengan jujur
2 Menerima saran dan masukan dengan sikap terbuka
3 Mengakomodasi saran dan masukan
4 Mampu menjawab pertanyaan dengan rasional
5 Menyimpulkan hasil diskusi untuk menentukan tujuan akhir kegiatan dengan tepat


LP 4 Lembar Tes Unjuk Kerja
Lembar Kinerja intuk menilai presentasi hasil kerja kelompok menyampaikan laporan secara jujur, percaya diri dan menghargai pendapat orang lain

No Aspek yang dinilai Dilakukan Tidak dilakukan
1 Menyampaikan hasil pengukuran dengan bahasa yang lugas
2 Menyampaikan laporan sesuai dengan prosedur kegiatan yang dilakukan dengan jujur
3 Menyampaikan laporan dengan percaya diri
4 Menerima saran dan masukan dengan sikap terbuka
5 Mengakomodasi saran dan masukan
6 Mampu menjawab pertanyaan dengan rasional
7 Menyimpulkan hasil diskusi untuk menentukan tujuan akhir kegiatan dengan tepat

Hasil adaptasi lengkap materi di atas yaitu:
• Isi, ditambahkan materi pengukuran panjang dengan jangka sorong dan mikrometer sekrup dari BSE Pelengkap dengan informasi yang mengintegrasikan karakter berpikir inovatif, ketelitian dan kecermatan, tanggung jawab, kepedulian, dan menghargai keberagaman.
• Kegiatan Pembelajaran, dirancang menggunakan pemodelan sesuai karakteristik materi pengukuran dan mengintegrasikan karakter berpikir inovatif, ketelitian dan kecermatan, tanggung jawab, dan kepedulian.
• Evaluasi, mengintegrasikan penilaian karakter berpikir inovatif, ketelitian dan kecermatan, tanggung jawab, kepedulian, dan menghargai keberagaman pada penilaian kognitif, psikomotor, dan afektif.

3.Berikut adalah contoh penggunaan BSE untuk pendidikan karakter adaptasi sebagian/parsial sebelum pembelajaran dilaksanakan dalam hal isi dan/atau kegiatan pembelajaran dan/atau evaluasi.

Contoh hasil adaptasi IPA-Fisika

Materi Ajar dari BSE Utama






















Materi adaptasi dari BSE Pelengkap





Hasil Analisis adaptasi isi:
• Ditambahkan materi pengukuran panjang dengan jangka sorong dan mikrometer sekrup dari BSE Pelengkap dengan informasi yang mengintegrasikan karakter inovatif, teliti dan cermat, bekerja sama, dan menghargai pendapat orang lain


Contoh Adaptasi IPA-Biologi





o Isi


Merujuk pada uraian di alinea terakhir, siswa ditanya tentang penyebab hilangnya pengurai dari ekosistem. Pengurai sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Kondisi lingkungan yang ekstrim karena perubahan suhu atau masuknya zat pencemar pada lingkungan secara alami maupun ulah manusia dapat menyebabkan matinya pengurai.

Dari penjelasan tersebut guru dapat menekankan nilai karakter yang berhubungan dengan lingkungan. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.


o Kegiatan Pembelajaran



Siswa diminta untuk melakukan kegiatan 7.3 di atas secara mandiri di rumah. Kemudian diminta untuk mengamati perkecambahan biji tersebut setiap hari dengan melakukan pengukuran panjang kecambah dan mengamati keadaan kecambah kemudian mencatat dalam suatu tabel sesuai denga hasil pengukuran dan pengamatannya secara jujur.
Hasil pengamatan dapat juga dipresentasikan untuk membiasakan siswa tangguh dan percaya diri.
o Evaluasi
Soal Pengembangan Keterampilan nomor 2 memberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam berpikir kritis, kreatif dan inovatif. Mintalah siswa untuk membuat rancangan kegiatan pengolahan sampah dan hasil rancangan siswa dicobakan atau diterapkan paling tidak di rumah siswa itu sendiri. Pengujicobaan atau penerapan rancangan tersebut sebaiknya dipantau dan dinilai dengan melibatkan orang tua.

Hasil analisis Adaptasi
• Isi, Mengambil sebagian materi dari Bab Ekosistem yaitu konsep Pengurai: Kunci Kehidupan tentang fungsi pengurai bagi ekosistem. Pendidikan karakter yang dapat dikembangkan dari materi ini adalah nilai-nilai karakter dalam hubungannya dengan peduli terhadap lingkungan.
• Kegiatan Pembelajaran, Mengambil kegiatan pembelajaran dari Bab Ciri-ciri Makhluk Hidup tentang Perkecambahan Biji di halaman 201. Pada prosedur kegiatan, siswa diminta untuk mengamati pertumbuhan kecambah setiap hari kemudian diminta mencatat dalam tabel dengan jujur. Presentasi hasil pengamatan secara lisan membiasakan siswa untuk tangguh dan percaya diri.
• Evaluasi, Mengambil evaluasi pada bab Manusia dan Lingkungannya pada halaman 327 bagian Pengembangan Keterampilan nomor 2 sebagai indikator siswa berpikir kritis, kreatif dan inovatif


4.a. Adaptasi sebagian/parsial sebelum pembelajaran dilaksanakan (isi dan/atau kegiatan pembelajaran dan/atau evaluasi) – guru merancang sejumlah adaptasi dalam hal isi, kegiatan pembelajaran, dan/atau evaluasi secara tertulis tetapi pada lembar terpisah – tidak menyatu dengan bahan ajar (disertai contoh)

No. Materi Adaptasi Hasil Adaptasi
1. Isi Ditambahkan materi pengukuran panjang dengan jangka sorong dan mikrometer sekrup dari BSE Pelengkap
2. Kegiatan Pembelajaran Dirancang menggunakan model Pengajaran Langsung sesuai karakteristik materi pengukuran.
3. Evaluasi Mengintegrasikan penilaian karakter pada penilaian kognitif, psikomotor, dan afektif.

3) Adaptasi Materi Ajar

Materi ajar dari BSE Utama perlu ditambah dengan materi pengukuran panjang dengan menggunakan jangka sorong dan micrometer dari BSE Pelengkap. Ini demi melengkapi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam SK dan KD pengukuran panjang. Tambahan materi ini dapat diambil dari halaman 9 sampai dengan 11. Kelengkapan materi akan mempermudah perolehan kompotensi pengukuran dan sekaligus menanamkan karakter yang relevan dengan itu.

4) Adaptasi Kegiatan Pembelajaran

Materi pengukuran panjang sangat relevan diwujudkan dengan model pengajaran langsung. Mengingat materi pengukuran didominasi dengan pengetahuan prosedural. Kegiatan pembelajaran ini dapat dilakukan dengan kegiatan penyeledikan seperti tertuang pada BSE Utama halaman 4 dan BSE Pelengkap halaman 10.

5) Adaptasi Evaluasi

Pembelajaran pengukuran ini dapat dievaluasi melalui tiga domain, yaitu: kognitif, psikomotor, dan afektif. Untuk kognitif dapat diambil dari BSE Utama halaman 23-24 dan BSE Pelengkap 16-18. Sedang untuk domain psikomotor dan afektif dapat digunakan instrumen kinerja dan observasi yang ada pada panduan guru ini (lihat pada kelengkapan RPP).


4. Adaptasi sebagian/parsial sebelum pembelajaran dilaksanakan (isi dan/atau kegiatan pembelajaran dan/atau evaluasi) – guru merancang sejumlah adaptasi dalam hal isi, kegiatan pembelajaran, dan/atau evaluasi secara tertulis tetapi pada lembar terpisah – tidak menyatu dengan bahan ajar (disertai contoh)


Contoh adaptasi IPA-Biologi

o Isi

Contoh Materi dalam lampiran terpisah

Kompetisi
Apakah kambing dan lembu anggota populasi berbeda, tetapi anggota-anggota dari populasi yang sama juga berinteraksi satu dengan lainnya. Populasi dapat meningkat karena anggota-anggota yang berkompetisi dalam hal makanan, air dan areal kekuasaan. Kompetisi adalah faktor yang tergantung kepadatan. Bila hanya sedikit individu membutuhkan sumber daya yang tersedia, maka hal ini tidak menimbulkan masalah. Bila populasi meningkat maka kebutuhan sumber daya juga meningkat, hal ini menyebabkan ukuran populasi menurun.

Kadang-kadang populasi penuh sesak sehingga anggota-anggota menunjukkan tanda-tanda stress. Individu-individu hewan mulai agresif. Hewan-hewan tersebut mulai berhenti merawat anaknya dan bahkan kehilangan kemampuan menyayangi anaknya. Stress juga membuat individu mudah beresiko mengidap penyakit. Semua gejala-gejala stress merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan. Hewan-hewan tersebut mempertahankan diri di bawah daya dukung lingkungan. Keterbatasan dalam memperoleh sumber daya yang sama dari lingkungan dapat menjadi penyebab pertarungan antar individu dalam populasi.

Manusia dalam hidup bermasyarakat sangat memungkinkan terjadinya kompetisi. Jika tidak ada nilai-nilai sosial yang berlaku, maka perselisihan bahkan pertarungan dapat saja terjadi antar anggota masyarakat. Siswa sebagai anggota masyarakat harus mampu mengembangkan nilai-nilai tersebut sejak dini secara sadar. Nilai-nilai tersebut diantaranya sadar hak dan kewajiban diri dan orang lain, patuh pada aturan-aturan sosial, menghargai karya dan prestasi orang lain, dan bersikap santun.


o Kegiatan Pembelajaran

LKS 2 : Mengklasifikasikan

Jika Anda diminta untuk mengklasifikasikan benda-benda, Anda mungkin akan mengelompokkan dalam satu kelompok benda-benda yang memiliki ciri-ciri tertentu secara umum. Seorang ilmuwan me-lakukan hal yang sama ketika mengelompokkan atau mengklasi-fikasikan makhluk hidup. Para ilmuwan mempunyai sistem klasifikasi untuk menunjukkan ciri-ciri yang saling berhubungan. Dengan cara bagaimanakah biji-bijian diklasifikasikan?
Tujuan
Membuat kunci determinasi
Mengklasifikasikan
Alat dan Bahan
 Kantong yang berisi 10 macam biji-bijian atau daun-daunan
 Kaca pembesar
 Penggaris
 2 lembar kertas
Cara kerja
1. Tuangkan kantong biji-bijian di atas selembar kertas. Amati setiap biji secara teliti.
2. Bagilah 10 biji/daun tersebut menjadi dua kelompok. Kesepuluh biji dalam setiap kelompok harus memiliki paling tidak satu ciri secara umum.
3. Catatlah ciri-ciri umum yang dimiliki biji pada Kelompok I dan Kelompok II dalam bagan seperti yang dicontohkan.
4. Sekarang, klasifikasikan atau bagilah biji di Kelompok I menjadi dua kelompok. Catat ciri-ciri kelompok tersebut
5. Bagi biji-bijian tersebut menjadi dua kelompok lagi. Catat ciri-ciri umum kelompok tersebut.
6. Ulangi langkah ke-lima dua kali lagi.
7. Ulangi langkah ke-empat sampai ke-enam untuk Kelompok II.
8. Berikan kantong biji-bijian dan bagannya kepada kelompok lain.. Mintalah kelompok tersebut untuk mengidentifikasi setiap biji dengan menggunakan sistem klasifikasi yang telah Anda buat.
































1. Dengan cara bagaimanakah sekelompok biji-bijian yang berbeda jenis diklasifikasikan?
___________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

2. Bandingkan sistem klasifikasi Anda dengan sistem klasifikasi kelompok lain.
___________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________


3. Apakah keuntungannya bagi para ilmuwan untuk menggunakan sistem standar untuk mengklasifikasikan makhluk hidup? Pengamatan apakah yang dibuat kelompok Anda untuk mendukung jawaban Anda?
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Berpikir kritis

Bagaimana Anda mengklasifikasikan sekelompok biji yang sama atau daun yang berasal dari sebuah pohon ynag sama?
Mengapa pengelompokkan ini lebih sulit dilakukan daripada sekantong biji-bijian pada kegiatan di atas?
o Evaluasi
Soal Pengembangan Keterampilan nomor 3 memberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam berpikir kreatif dan inovatif. Mintalah siswa untuk membuat salah satu produk dari bahan limbah anorganik. Hasil karya siswa dapat menjadi indikator kemampuan siswa dalam berpikir kreatif dan inovatif.

Lampiran Lembar Penilaian: Membuat Produk
No. Aktivitas Nilai Asesmen
Nilai Maksimum Nilai yang diperoleh
Penilaian Sendiri Penilaian Guru
1. Menggunakan bahan dari limbah atau sampah anorganik. (berpikir kreatif) 10
2. Produk yang dihasilkan bernilai seni atau bernilai ekonomi (berpikir kreatif dan inovatif)) 10
3. Tampilan produk menunjukkan keterampilan dalam menggunakan alat dan bahan untuk menghasilkan produk 10
4. Produk merupakan hasil karya sendiri (mandiri) 10

TOTAL

40

Hasil analisis
• Isi, Mengambil materi Pola Interaksi pada bab Ekosistem di halaman 266-269 dengan ditambahkan materi pada sub materi pola interaksi sebagai bahan untuk menunjukkan perlunya nilai-nilai yang berkaitan dengan sesama misalnya santun.
• Kegiatan Pembelajaran, Mengambil kegiatan Lab Mini 8.2 pada bab Organisasi Kehidupan dan Keanekaragaman makhluk Hidup di halaman 228. Kegiatan tersebut dimodifikasi dengan menggunakan lembar kegiatan siswa mengklasifikasikan dan membuat kunci determinasi sederhana untuk mempelajari materi organisasi kehidupan submateri keanekaragaman hayati submateri klasifikasi untuk sebagai indkator siswa berpikir kritis, kreatif dan inovatif.
• Evaluasi, mengambil evaluasi pada bab Manusia dan Lingkungannya pada halaman 327 bagian Pengembangan Keterampilan nomor 3 sebagai indikator siswa berpikir kritis, kreatif dan inovatif.






DAFTAR BACAAN
Bernal, J.D. 1969. Science in History, Middlesex, England: Penguin Book Ltd, Vol.1.

Collete, Alfred T. dan Chiappetta, Eugene L. 1994. Science Instruction in The Middle and Secondary Schools. New York: MacMillan Pub.Co.
Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Standar Kompetensi Mata Pelajaran IPA Sekolah Menengah Pertama(SMP)/MadrasahTsanawiyah (MTs). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Fraenkel, Jack R. (1977). How to teach about values: An Analytic approach. Englewood Cliffs N.J.: Prentice-Hall.
Karso, dkk, 1993, Materi pokok Dasar-dasar Pendidikan MIPA, PGSN 3114. Modul 1-6 Jakarta: Dekdikbud

Muslimin Ibrahim, dkk., 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi: Sains. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Kementrian Pendidikan Nasional (2010). Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. Jakarta: Puskur Balitbang Kemendiknas RI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar